
Pada pertengahan Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Asap pekat yang dihasilkan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga memaksa ribuan sekolah di tiga provinsi—Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan—untuk menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) [1][2].
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 54.743 satuan pendidikan dengan lebih dari 6 juta murid di 12 provinsi Kalimantan berpotensi terpapar asap karhutla [1]. Dari jumlah tersebut, 3.524 satuan pendidikan telah menerapkan PJJ, melibatkan sekitar 571.338 murid [1][2].
Artikel ini mengulas kondisi terkini karhutla di Kalimantan per 24 Agustus 2026, dampaknya terhadap kualitas udara dan sektor pendidikan, serta bagaimana pemanfaatan sensor multi-parameter, data logger kualitas udara, dan sensor partikulat dapat membantu menentukan ambang batas aman kegiatan belajar dan aktivitas luar ruang.
- Skala Kebakaran dan Dampaknya terhadap Sektor Pendidikan
- Kualitas Udara di Kalimantan 24 Agustus 2026: Data dan Fakta
- Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan?
- Ambang Batas Aman Kegiatan Belajar dan Aktivitas Luar Ruang
- Pemanfaatan Sensor Multi-Parameter untuk Pemantauan Kualitas Udara
- Data Logger dan Sistem Pemantauan Real-Time
- Langkah Antisipasi yang Dapat Dilakukan Warga Sekolah dan Masyarakat
- Kesimpulan: Sampai Kapan Warga Harus Waspada?
- Referensi
Skala Kebakaran dan Dampaknya terhadap Sektor Pendidikan
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada 20 Agustus 2026 terdeteksi 1.487 titik panas (hotspot) di sebagian besar wilayah Kalimantan melalui pemantauan Satelit NOAA-20 [3]. Konsentrasi hotspot tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik dan Kalimantan Barat dengan 560 titik [3].
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan bahkan meminta pemerintah segera menetapkan karhutla Kalimantan sebagai bencana nasional, menyusul kebakaran yang semakin parah [4].
Dampak paling nyata dirasakan di sektor pendidikan. Pemerintah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menerbitkan Surat Edaran Dinas Pendidikan yang menetapkan PJJ mulai 24–28 Agustus 2026 [1][5]. Hal serupa dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk jenjang SMA/SMK/SLB [6].
Menlu Indonesia bahkan mencatat bahwa asap karhutla telah melintasi batas negara, memaksa hampir 500 sekolah di Sarawak, Malaysia, ditutup sejak 20 Agustus, dengan sekitar 110.000 siswa beralih ke pembelajaran daring [7].
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menegaskan bahwa keputusan peliburan sekolah harus didasarkan pada data kualitas udara, tingkat paparan asap, serta rekomendasi instansi kesehatan dan kebencanaan setempat [8]. “Intinya, ketika kualitas udara sudah mengancam kesehatan, melindungi anak-anak bukan berarti mengabaikan pendidikan,” ujarnya [8].
Kualitas Udara di Kalimantan 24 Agustus 2026: Data dan Fakta
Memasuki 24 Agustus 2026, kualitas udara di sejumlah kota Kalimantan masih berada pada level mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan situs IQAir, berikut data kualitas udara beberapa wilayah di Kalimantan pada 24 Agustus 2026 [9]:
| Kota/Kabupaten | AQI (US) | Kategori | PM2.5 (µg/m³) |
|---|---|---|---|
| Palangka Raya, Kalteng | 300+ | Berbahaya | ±239 |
| Pontianak, Kalbar | ±255 | Sangat Tidak Sehat – Berbahaya | ±180 |
| Kubu Raya, Kalbar | ±254 | Berbahaya | – |
| Singkawang, Kalbar | ±160 | Tidak Sehat | ±74 |
| Ketapang, Kalbar | ±150 | Tidak Sehat | – |
| Mempawah, Kalbar | ±148 | Tidak Sehat | – |
Sumber: IQAir, 24 Agustus 2026 [9]
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WITA—angka yang masuk kategori Berbahaya dan jauh melampaui ambang batas 250,5 µg/m³ untuk kategori tersebut [3]. Sementara itu, kualitas udara di Palangka Raya sempat menyentuh kategori berbahaya pada pukul 05.00 WIB dengan angka PM 258,9, dan meningkat menjadi 290,2 pada pukul 06.00 WIB [10].
Data dari Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat sedikitnya 132 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 19 Agustus 2026 [11], menunjukkan dampak kesehatan yang nyata dari paparan asap karhutla.
Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan?
PM2.5 adalah partikel halus di udara dengan diameter aerodinamik kurang dari 2,5 mikrometer—sekitar 1/30 dari diameter rambut manusia. Partikel seukuran ini dapat menembus hingga ke alveoli paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah, menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius.
World Health Organization (WHO) dalam Global Air Quality Guidelines 2021 menetapkan bahwa rata-rata 24 jam PM2.5 yang aman adalah 15 µg/m³, sementara rata-rata tahunan yang direkomendasikan adalah 5 µg/m³ [12].
Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap paparan PM2.5 karena:
- Sistem pernapasan yang masih berkembang – paru-paru anak belum matang dan lebih sensitif terhadap polutan
- Laju pernapasan lebih tinggi – anak-anak menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa
- Aktivitas luar ruang yang tinggi – anak-anak cenderung lebih aktif di luar ruangan, meningkatkan paparan
- Sistem imun yang belum sempurna – kemampuan tubuh untuk melawan efek toksik polutan masih terbatas
Pada 24 Agustus 2026, konsentrasi PM2.5 di Palangka Raya (±239 µg/m³) dan Pontianak (±180 µg/m³) [9] mencapai 12–16 kali lipat dari ambang batas aman harian WHO (15 µg/m³)—sebuah kondisi yang sangat mengancam kesehatan anak-anak [12].
Ambang Batas Aman Kegiatan Belajar dan Aktivitas Luar Ruang
Menentukan kapan sekolah harus diliburkan dan aktivitas luar ruang dihentikan memerlukan acuan yang jelas. Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang digunakan di Indonesia dan mengacu pada standar internasional, berikut panduan ambang batas:
| Kategori | AQI | PM 2.5 (µg/m³) | Rekomendasi Aktivitas |
|---|---|---|---|
| Baik | 0–50 | 0–15,4 | Aktivitas normal |
| Sedang | 51–100 | 15,5–40,4 | Aktivitas normal, kelompok sensitif mulai waspada |
| Tidak Sehat | 101–150 | 40,5–65,4 | Kurangi aktivitas luar ruang berat |
| Sangat Tidak Sehat | 151–200 | 65,5–150,4 | Hindari aktivitas luar ruang, sekolah pertimbangkan PJJ |
| Berbahaya | 201–300+ | 150,5–250,4+ | Stop semua aktivitas luar ruang, sekolah wajib diliburkan/PJJ |
Sumber: Diolah dari BMKG dan standar AQI US EPA
Ketika AQI memasuki kategori Sangat Tidak Sehat (AQI >150) atau Berbahaya (AQI >200), sekolah sebaiknya diliburkan dan pembelajaran dialihkan ke PJJ [8]. Pada 24 Agustus 2026, Palangka Raya (AQI 300+) dan Pontianak (AQI 255) berada jauh di atas ambang batas tersebut [9].
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan bahwa pemerintah belum meliburkan sekolah secara permanen karena kondisi udara masih berfluktuasi [8]. Namun, dengan data AQI yang konsisten di atas 250, keputusan untuk memberlakukan PJJ hingga 28 Agustus 2026 merupakan langkah yang tepat [5].
Pemanfaatan Sensor Multi-Parameter untuk Pemantauan Kualitas Udara
Di tengah krisis karhutla seperti ini, pemantauan kualitas udara secara akurat dan real-time menjadi sangat krusial. Teknologi sensor multi-parameter memungkinkan pengukuran berbagai polutan secara simultan, memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi udara.
Sensor multi-parameter modern mampu mengukur:
- Partikulat (PM1, PM2.5, PM10) – menggunakan sensor seperti Sensirion SPS30 atau Bosch BMV080 [13][14]
- Gas polutan (CO₂, CO, NOx, SO₂, O₃)
- VOC (Volatile Organic Compounds)
- Parameter lingkungan (suhu, kelembaban, tekanan udara)
Contoh implementasi nyata adalah Amtast 2CO8 yang menggunakan sensor REAL-TIME untuk pengukuran PM1, PM2.5, dan PM10, serta sensor SGP41 untuk melacak VOC dan NOx [13]. Perangkat ini memberikan pemantauan kualitas udara secara real-time dan terintegrasi. Produk terkait seperti pemantau kualitas udara dan sensor partikulat menjadi semakin penting bagi:
- Sekolah – untuk memutuskan kapan harus memberlakukan PJJ
- Dinas Lingkungan Hidup – untuk pemantauan kualitas udara ambien
- Masyarakat umum – untuk menentukan kapan aman beraktivitas di luar ruangan
Data Logger dan Sistem Pemantauan Real-Time
Selain sensor, data logger kualitas udara berperan penting dalam mencatat dan menyimpan data polusi secara berkelanjutan. Data logger memungkinkan:
- Pencatatan data historis – untuk analisis tren dan evaluasi kebijakan
- Pengiriman data real-time – melalui koneksi Wi-Fi, LoRa, atau seluler
- Integrasi dengan platform cloud – untuk akses data dari jarak jauh
Salah satu contoh adalah AMTAST DR-200A+, sebuah modul data logger yang mampu mengukur PM1, PM2.5, PM10, CO, CO₂, TVOC, suhu, kelembaban, dan titik embun [15].
Sayangnya, infrastruktur pemantauan di Kalimantan masih menghadapi tantangan. Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup yang terpasang di RTH Masjid Agung Banjarbaru dilaporkan telah rusak selama dua tahun [16]. Hal ini menyulitkan upaya pemantauan kualitas udara secara real-time di wilayah yang sangat membutuhkannya.
Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Timur mulai mengintegrasikan pemantauan kualitas udara dan pelaporan kasus ISPA secara real-time melalui sistem SKDR dan Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) untuk memitigasi krisis kesehatan akibat polusi asap [17].
Langkah Antisipasi yang Dapat Dilakukan Warga Sekolah dan Masyarakat
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh warga sekolah dan masyarakat umum untuk melindungi diri dari dampak asap karhutla:
Untuk Sekolah dan Dinas Pendidikan:
- Pasang pemantau kualitas udara di lingkungan sekolah untuk memantau AQI dan PM2.5 secara real-time
- Tetapkan protokol darurat – kapan PJJ diberlakukan berdasarkan data AQI (misalnya AQI >150)
- Sediakan ruang aman asap – ruang kelas dengan filtrasi udara HEPA di sekolah rujukan [1]
- Distribusikan masker N95 kepada siswa dan guru [1]
- Koordinasi dengan DLH dan BMKG untuk mendapatkan data kualitas udara terkini
Untuk Masyarakat Umum:
- Pantau kualitas udara melalui aplikasi seperti IQAir AirVisual atau situs BMKG
- Gunakan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan
- Tutup ventilasi rumah dan gunakan air purifier dengan filter HEPA
- Batasi aktivitas luar ruangan, terutama untuk anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan
- Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala ISPA (batuk, sesak napas, iritasi mata)
Kesimpulan: Sampai Kapan Warga Harus Waspada?
Karhutla Kalimantan 2026 telah memaksa ribuan sekolah diliburkan dan ratusan ribu siswa beralih ke PJJ. Berdasarkan data kualitas udara per 24 Agustus 2026, beberapa wilayah seperti Palangka Raya (AQI 300+) dan Pontianak (AQI 255) masih berada pada kategori Berbahaya hingga Sangat Tidak Sehat [9].
Pemerintah Kota Banjarbaru dan sejumlah daerah lainnya telah menetapkan PJJ hingga 28 Agustus 2026 [5]. Namun, dengan titik panas yang masih terdeteksi dan musim kemarau yang diperkirakan berlanjut hingga Oktober 2026 [18], warga harus tetap waspada setidaknya hingga akhir September 2026.
Kunci utama dalam menghadapi krisis ini adalah data yang akurat dan real-time. Pemanfaatan sensor multi-parameter, data logger kualitas udara, dan sensor partikulat menjadi sangat penting untuk:
- Menentukan kapan sekolah harus diliburkan
- Melindungi kelompok rentan dari paparan polusi
- Mengambil keputusan berbasis data untuk keselamatan publik
Dengan pemantauan yang tepat dan respons yang cepat, dampak karhutla terhadap kesehatan dan pendidikan dapat diminimalkan. Sampai api padam dan udara kembali bersih, kewaspadaan adalah harga mati.
Rekomendasi Alat Ukur Udara
Referensi
- Cicin Yulianti. (2026, 22 Agustus). Asap Karhutla Kalimantan Makin Parah, 3.524 Sekolah Terapkan PJJ. detikEdu. Diakses dari https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8630056/asap-karhutla-kalimantan-makin-parah-3-524-sekolah-terapkan-pjj
- Ester Lince Napitupulu. (2026, 22 Agustus). Thousands of Schools in Kalimantan Implement Distance Learning Due to Forest and Land Fires. Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/thousands-of-schools-in-kalimantan-implement-distance-learning-due-to-forest-and-land-fires
- Intan Maharani. (2026, 21 Agustus). 1.487 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan, Kualitas Udara Banjarbaru Masuk Kategori Berbahaya. Kompas.com. Diakses dari https://regional.kompas.com/read/2026/08/21/211200978/1.487-titik-panas-terdeteksi-di-kalimantan-kualitas-udara-banjarbaru-masuk
- Anggota DPR minta karhutla Kalimantan ditetapkan jadi bencana nasional. (2026, 21 Agustus). ANTARA News. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/4439576/anggota-dpr-minta-karhutla-kalimantan-ditetapkan-jadi-bencana-nasional
- Kabut Asap Memburuk, Banjarbaru Alihkan Sekolah ke PJJ. (2026, 22 Agustus). CNN Indonesia. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260822092152-20-1395216/pemkot-banjarbaru-kalsel-terapkan-pjj-sepekan-imbas-karhutla
- SMA/SMK/SLB Kalbar Daring 24-28 Agustus Antisipasi Kabut Asap Karhutla. (2026, 23 Agustus). RRI.co.id. Diakses dari https://rri.co.id
- Hàng trăm nghìn trẻ em phải học online do cháy rừng ở Indonesia. (2026, 23 Agustus). ANTV. Diakses dari https://antv.gov.vn/the-gioi-7/hang-tram-nghin-tre-em-phai-hoc-online-do-chay-rung-o-indonesia-1FA526388.html
- Adhyasta Dirgantara, Bilal Ramadhan. (2026, 21 Agustus). Pemerintah Diminta Pertimbangkan Liburkan Sekolah di Kalimantan Impas Karhutla. Kompas.com. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2026/08/21/13474471/pemerintah-diminta-pertimbangkan-liburkan-sekolah-di-kalimantan-impas
- Bocoran Kualitas Udara Kalimantan Besok 24 Agustus 2026, Dua Kota Masuk Level Bahaya. (2026, 23 Agustus). Tribunpontianak.co.id. Diakses dari https://pontianak.tribunnews.com/nasional/1183604/bocoran-kualitas-udara-kalimantan-besok-24-agustus-2026-dua-kota-masuk-level-bahaya
- Forest fires push Palangka Raya air quality into hazardous zone. (2026, 21 Agustus). ANTARA News. Diakses dari https://en.antaranews.com/news/428139/forest-fires-push-palangka-raya-air-quality-into-hazardous-zone
- Udara Palangka Raya Masuk Zona Sangat Tidak Sehat, Ada 132 Kasus ISPA. (2026, 21 Agustus). detik.com. Diakses dari https://www.detik.com
- World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide. Geneva: WHO. Diakses dari https://www.who.int/publications/i/item/9789240034228
- Alat Monitoring Kualitas Udara 13 in 1 2CO8. (2026, 17 Juni). Data Logger. Diakses dari https://www.amtast.id
- DFRobot launches low-power, low-cost Fermion: BMV080 air quality sensor module. (2026, 6 Maret). CNX Software. Diakses dari https://www.cnx-software.com
- AMTAST DR-200A+. Data Logger Suhu. (2026, 20 April). Amtast Indonesia. Diakses dari https://www.amtast.id
- Karhutla di Banjarbaru Meningkat, Alat Pemantau Udara Rusak Dua Tahun. (2026, 11 Agustus). Poros Kalimantan. Diakses dari https://poroskalimantan.com
- Dinkes Kaltim integrasikan pemantauan kualitas cuaca dan aduan ISPA. (2026, 24 Agustus). ANTARA News Kalimantan Timur. Diakses dari https://kaltim.antaranews.com
- BNPB ensures coordinated action for Central Kalimantan wildfires. (2026, 31 Juli). ANTARA News. Diakses dari https://en.antaranews.com/news/427249/bnpb-ensures-coordinated-action-for-central-kalimantan-wildfires




