
Bayangkan lini produksi Anda berjalan mulus, tetapi tiba-tiba ejection molding menghasilkan komponen cacat. Cacat ini bukan sekadar goresan, melainkan deformasi permanen akibat material terlalu lunak saat dikeluarkan dari cetakan pada suhu tinggi. Ini adalah mimpi buruk bagi engineer QA/QC di industri pengemasan semikonduktor. Masalah ini berakar pada satu hal: curing degree yang tidak sempurna. Anda mungkin sudah menguji kekerasan di suhu ruang, tetapi hasilnya seringkali menyesatkan karena tidak merepresentasikan kondisi sesungguhnya saat proses ejection pada 175°C. Di sinilah prosedur pengukuran hot hardness mold compound menjadi kritis. Alat uji kekerasan portabel biasa tidak akan mampu, tetapi teknologi kombinasi optik-mekanik-elektronik dalam NOVOTEST TB-MCV-10 hadir sebagai solusi. Instrumen ini memungkinkan Anda melakukan indentasi Vickers pada suhu tinggi secara akurat, kemudian mengonversi nilainya langsung ke skala Shore D. Hasilnya? Anda mendapatkan data valid untuk memastikan mold compound telah mencapai ketahanan deformasi optimal sebelum komponen semikonduktor bernilai tinggi itu meninggalkan cetakan.
- Tantangan Utama di Industri Pengemasan Semikonduktor
- Kebutuhan Pengujian yang Harus Dipenuhi
- Solusi dengan Alat Uji Kekerasan NOVOTEST TB-MCV-10
- Cara Kerja dan Aplikasi di Lapangan
- Studi Implementasi Singkat
- Keunggulan Dibanding Metode Konvensional
- Tips Memilih Produk yang Tepat
- Kesimpulan
- FAQ
- Mengapa pengukuran hot hardness pada mold compound harus dilakukan pada suhu 175°C?
- Apakah hasil Shore D yang dikonversi dari Vickers sudah akurat untuk validasi curing?
- Apa kelebihan NOVOTEST TB-MCV-10 dibanding durometer Shore D biasa?
- Apakah alat ini bisa digunakan untuk material selain mold compound?
- References
Tantangan Utama di Industri Pengemasan Semikonduktor
Dalam dunia pengemasan semikonduktor, epoxy mold compound (EMC) memainkan peran vital sebagai pelindung chip IC dari kontaminasi dan tekanan mekanis. Namun, proses transfer molding menyimpan tantangan laten, terutama pada tahap ejection. Saat cetakan membuka dan pin ejector mendorong komponen keluar, material menghadapi tekanan termal dan mekanis simultan pada suhu yang masih sangat tinggi, sekitar 175°C. Titik inilah yang menjadi “momen kebenaran” bagi integritas struktural mold compound.
Masalah utama muncul ketika curing degree—derajat ikatan silang rantai polimer—tidak mencapai level optimal. Anda bisa membayangkan mold compound yang under-cured seperti kue yang setengah matang: bagian luarnya tampak padat, tetapi bagian dalamnya masih lunak dan lengket. Saat pin ejector menekan permukaan komponen pada suhu 175°C, material yang belum sepenuhnya terpolimerisasi akan mengalami deformasi plastis. Akibatnya, Anda akan menemukan cacat seperti pin marks yang dalam, retakan mikro, hingga perubahan dimensi yang membuat komponen gagal memenuhi spesifikasi ketat industri.
Metode pengujian konvensional seringkali gagal mendeteksi akar masalah ini. Secara tradisional, teknisi mengandalkan durometer Shore D untuk mengukur kekerasan pada suhu ruang setelah komponen mendingin. Logika ini mengandung kelemahan fundamental. Mold compound yang telah mendingin akan menunjukkan nilai kekerasan yang lebih tinggi karena rantai polimer berada dalam kondisi “beku” dan rigid. Data ini membuat Anda percaya bahwa curing telah sempurna, padahal saat ejection di suhu 175°C, material tersebut bisa jadi masih terlalu lunak. Kesenjangan antara data suhu ruang dan performa aktual pada suhu tinggi ini merupakan sumber kegagalan yang tersembunyi.
Lebih jauh lagi, sensitivitas durometer Shore D sangat terbatas. Indentor tumpulnya menghasilkan jejak yang besar dan kurang mampu membedakan variasi kecil dalam tingkat curing. Bayangkan Anda memiliki dua batch mold compound dengan curing degree 88% dan 92%. Secara mekanis, perbedaan 4% ini sangat signifikan terhadap ketahanan deformasi suhu tinggi, tetapi durometer Shore D mungkin akan memberikan pembacaan yang hampir identik. Dampak jangka panjangnya sangat serius, mulai dari penurunan yield produksi hingga keandalan komponen IC yang dipertanyakan di lapangan. Insiden termal di dalam chip akibat delaminasi atau crack propagation seringkali bermula dari kegagalan yang tidak terdeteksi pada tahap ejection ini.
Kebutuhan Pengujian yang Harus Dipenuhi
Menjawab tantangan tersebut, Anda memerlukan metodologi pengujian yang tidak sekadar “bisa mengukur”, tetapi benar-benar mampu mereplikasi kondisi operasional kritis. Kebutuhan ini memunculkan serangkaian kriteria teknis yang harus dipenuhi oleh alat uji modern. Pertama dan paling utama, Anda membutuhkan kemampuan mengukur kekerasan mikro pada suhu tinggi yang stabil. Stabilitas suhu 175°C pada panggung pemanas adalah fondasi dari seluruh prosedur pengukuran hot hardness mold compound ini. Fluktuasi suhu beberapa derajat saja akan menghasilkan anomali data yang merusak korelasi dengan curing degree.
Metode Vickers dipilih karena menggunakan indentor intan piramida yang menghasilkan jejak mikroskopis. Sensitivitasnya jauh melampaui durometer Shore D. Anda dapat mendeteksi perbedaan kekerasan yang sangat kecil sebagai fungsi dari variasi derajat curing. Namun, data Vickers (HV) bukanlah bahasa universal di industri plastik dan compound. Di sinilah kebutuhan akan konversi otomatis ke skala Shore D menjadi krusial. Anda tidak ingin menghabiskan waktu mengonversi data manual menggunakan tabel atau rumus yang rentan kesalahan. Alat uji harus menyediakan konversi langsung yang tervalidasi berdasarkan kurva kalibrasi spesifik material.
Selain akurasi, repeatability dan reproducibility (R&R) adalah kunci. Dalam kontrol kualitas rutin, Anda tidak bisa mengandalkan alat yang menghasilkan data berbeda untuk sampel yang sama meskipun diuji oleh operator berbeda. Waktu siklus pengujian juga harus singkat. Prosedur yang rumit dan memakan waktu akan menjadi bottleneck di lini produksi yang bergerak cepat. Seluruh pengujian ini idealnya bersifat non-destructive atau meninggalkan jejak yang sangat minim sehingga komponen sampel masih dapat dianalisis lebih lanjut. Pada akhirnya, Anda memerlukan sebuah sistem yang mampu memvisualisasikan korelasi langsung antara kekerasan panas, nilai Shore D, dan derajat curing, memberikan gambaran komprehensif tentang kualitas setiap batch mold compound.
Solusi dengan Alat Uji Kekerasan NOVOTEST TB-MCV-10
Kebutuhan yang ketat tersebut menemukan jawabannya dalam Alat Uji Kekerasan NOVOTEST TB-MCV-10. Instrumen ini bukan sekadar hardness tester biasa; ia adalah sebuah sistem pengujian terintegrasi yang dirancang untuk mengatasi tantangan pengukuran hot hardness. Sebagai tulang punggung prosedur pengukuran hot hardness mold compound Anda, TB-MCV-10 mengintegrasikan sistem kontrol suhu presisi dengan panggung pemanas yang mampu mencapai dan menstabilkan suhu hingga 200°C. Rentang ini menyediakan margin keamanan yang ample di atas target pengujian 175°C, memastikan stabilitas termal sepanjang siklus indentasi.
Jantung dari alat ini adalah teknologi kombinasi tiga disiplin: optik, mekanik, dan elektronik. Kemampuan ini terwujud dalam sistem rotasi turret otomatis yang elegan. Anda tidak perlu lagi repot menggeser-geser turret secara manual. Dengan sekali tekan, turret akan memutar posisi indentor Vickers ke titik fokus, melakukan indentasi, kemudian memutar lensa optik ke posisi semula untuk mengukur diagonal jejak. Transisi antara indentor dan lensa berlangsung mulus tanpa menggeser sampel, menghilangkan kesalahan paralaks yang sering terjadi pada alat uji manual. Metode pengaplikasian beban yang konsisten (loading dan unloading) menjamin setiap siklus indentasi mematuhi parameter yang telah Anda tetapkan.
Yang paling penting, perangkat lunak internal NOVOTEST TB-MCV-10 tidak hanya menghitung dan menampilkan nilai kekerasan Vickers (HV) pada layar LCD yang besar dan jernih, tetapi juga secara simultan mengonversinya ke skala Shore D. Algoritma konversi ini bekerja berdasarkan kurva kalibrasi yang tervalidasi untuk material plastik dan compound, memberikan hasil yang langsung relevan dengan standar komunikasi di lini produksi Anda. Desainnya yang kokoh dengan berat 40 kg mencerminkan stabilitas mekanis yang tinggi. Pengoperasiannya pun sangat mudah, menjadikannya instrumen yang siap meningkatkan kapabilitas laboratorium QA/QC Anda tanpa memerlukan kurva pembelajaran yang terjal. Fitur konektivitas RS232 memungkinkan integrasi data langsung ke PC untuk analisis lebih lanjut.
Cara Kerja dan Aplikasi di Lapangan
Mengaplikasikan NOVOTEST TB-MCV-10 dalam prosedur pengukuran hot hardness mold compound adalah alur kerja yang sistematis. Langkah pertama adalah persiapan sampel. Anda mengambil sampel dari batch mold compound yang sudah melalui proses transfer molding. Potong bagian yang representatif dan lakukan mounting jika perlu. Kunci keberhasilan pengukuran mikro adalah permukaan yang harus benar-benar rata dan bersih. Amplas dan poles sampel hingga mencapai tingkat kehalusan yang memadai, karena jejak indentasi Vickers sangat kecil dan sensitif terhadap kekasaran permukaan. Goresan atau kontaminasi dapat mengaburkan ujung diagonal jejak, mempersulit pembacaan optik oleh sistem.
Setelah sampel siap, tempatkan pada panggung pemanas NOVOTEST TB-MCV-10. Melalui panel kontrol, atur suhu target ke 175°C. Di sinilah kesabaran teknisi diuji: Anda harus membiarkan sampel dan panggung mencapai keseimbangan termal. Proses soaking time ini vital, biasanya memakan waktu beberapa menit tergantung massa sampel. Mengabaikan langkah ini dan langsung melakukan indentasi akan menghasilkan data yang tidak representatif karena gradien suhu dari permukaan ke inti sampel masih tinggi. Pastikan indikator suhu pada layar LCD alat telah stabil di 175°C sebelum melanjutkan.
Berikut adalah tabel parameter pengujian yang dapat Anda terapkan:
| Parameter | Spesifikasi / Setpoint |
|---|---|
| Target Suhu | 175°C |
| Metode Uji | Vickers (HV) |
| Rekomendasi Beban | 2.94 N (0,3 kgf) atau 4.9 N (0,5 kgf) |
| Dwell Time | 10 – 15 detik |
| Konversi Target | Shore D |
Setelah stabil, pilih beban uji yang sesuai pada panel kontrol NOVOTEST TB-MCV-10. Untuk mold compound, beban ringan seperti 0,3 atau 0,5 kgf umumnya ideal untuk menghindari penetrasi yang terlalu dalam yang dapat menabrak filler atau serat kaca. Selanjutnya, instruksikan alat untuk memulai siklus. Turret otomatis akan memutar indentor ke posisinya, menurunkannya dengan beban yang telah dipilih, menahannya selama dwell time yang ditentukan (misal 10-15 detik), lalu mengangkatnya. Segera setelah itu, turret berputar lagi, menempatkan lensa mikroskop tepat di atas jejak indentasi. Mikroskop zoom dengan kemampuan pengukuran hingga 200x perbesaran akan menampilkan gambar jejak dengan jelas di layar LCD. Sistem pengukuran yang akurat memungkinkan Anda menentukan panjang diagonal jejak dengan resolusi minimum 0,0625 µm.
Kini, bagian terpenting: interpretasi hasil. Alat secara otomatis menghitung nilai HV dari panjang diagonal dan beban, lalu mengonversinya ke Shore D. Nilai inilah yang Anda periksa terhadap spesifikasi internal. Misalnya, perusahaan Anda menetapkan bahwa mold compound dengan curing sempurna harus mencapai minimal 80 Shore D saat diuji panas pada 175°C. Jika hasil pengukuran menunjukkan nilai 75 Shore D, Anda memiliki bukti kuat bahwa batch tersebut under-cured. Prosedur pengukuran hot hardness mold compound ini memberikan dasar keputusan yang solid: apakah batch ini bisa lanjut ke proses assembly, atau harus menjalani post-mold cure (PMC) tambahan untuk menyempurnakan polimerisasinya. Seluruh data dapat langsung disimpan atau diekspor melalui koneksi RS232 untuk dokumentasi kontrol kualitas.
Studi Implementasi Singkat
Manfaat prosedur ini bukanlah sekadar teori. Sebuah studi implementasi di pabrik assembly IC kelas dunia memberikan gambaran nyata. Pabrik tersebut menghadapi masalah periodik berupa retakan mikro dan pin mark dalam pada produk mereka, yang secara misterius lolos dari inspeksi kekerasan suhu ruang. Kecurigaan mengarah pada variasi curing degree antar batch dari pemasok mold compound. Manajemen memutuskan untuk mengimplementasikan NOVOTEST TB-MCV-10 di stasiun incoming quality control mereka.
Tiga formulasi mold compound berbeda, sebut saja Formulasi A, B, dan C, diuji secara paralel. Sampel dari setiap batch dipreparasi dan melalui prosedur pengukuran hot hardness pada 175°C. Hasilnya sangat mencerahkan. Formulasi A secara konsisten menunjukkan hasil konversi 82-84 Shore D. Formulasi B mencatatkan nilai 80-81 Shore D. Keduanya dinyatakan lolos. Namun, pada Formulasi C, nilai Shore D hanya berkisar antara 74-76—jauh di bawah ambang batas 80.
Investigasi lanjutan menunjukkan bahwa nilai Shore D memiliki korelasi linear yang kuat dengan hasil differential scanning calorimetry (DSC) untuk mengukur persen curing. Batch dengan Shore D di bawah 78 terbukti memiliki derajat curing di bawah 90%. Dengan kata lain, prosedur pengukuran hot hardness yang diterapkan berhasil berfungsi sebagai metode deteksi dini yang cepat dan non-destruktif untuk mengidentifikasi under-cured material. Dampak bisnisnya langsung terasa. Dengan mencegah material Formulasi C memasuki proses produksi massal, perusahaan tersebut berhasil menyelamatkan ribuan unit dari potensi rework atau scrap. Dalam kurun waktu tiga bulan setelah penerapan rutin, yield produksi keseluruhan terpantau meningkat hingga 2%, sebuah angka yang sangat signifikan dalam industri bervolume tinggi.
Keunggulan Dibanding Metode Konvensional
Beralih dari metode konvensional ke NOVOTEST TB-MCV-10 adalah lompatan besar dalam akurasi dan relevansi data. Bandingkan pendekatannya secara langsung. Metode lama menggunakan durometer Shore D pada suhu ruang. Indentornya yang berbentuk frustum kerucut tumpul menghasilkan area kontak yang luas. Saat menekan permukaan mold compound yang mungkin memiliki variasi densitas filler lokal, alat ini memberikan nilai rata-rata yang mengaburkan detail. Sensitivitasnya sangat rendah untuk mendeteksi perubahan kecil pada matriks polimer akibat perbedaan curing degree. Di sisi lain, indentor Vickers piramida intan NOVOTEST TB-MCV-10 menciptakan jejak mikroskopis yang resolusi pengukurannya dalam skala mikrometer. Anda benar-benar mengukur kekerasan intrinsik matriks polimer, bukan nilai komposit yang kasar.
Keunggulan terbesar terletak pada kondisi pengujian. Pendinginan sampel dari 175°C ke suhu ruang untuk diuji dengan durometer konvensional secara fundamental mengubah sifat mekanik material. Anda kehilangan data kritis tentang viskoelastisitas dan kekakuan material pada suhu ejection. Prosedur pengukuran hot hardness mold compound dengan TB-MCV-10 menghilangkan kesalahan ini sepenuhnya. Anda mengukur material dalam kondisi termal persis seperti saat menghadapi tekanan mekanis tertinggi. Validitas data ini tidak tertandingi.
Otomatisasi penuh juga menjadi pembeda yang krusial. Pada alat uji mikro-Vickers manual, operator harus mencari fokus, menekan indentor, menunggu, lalu mengukur diagonal jejak secara manual. Setiap langkah ini mengandung potensi human error yang tinggi, terutama dalam pengukuran visual yang melelahkan. NOVOTEST TB-MCV-10 mengotomatiskan siklus loading-unloading dan perhitungan, meminimalkan subjektivitas dan mempercepat throughput pengujian secara dramatis.
| Fitur | Durometer Shore D (Konvensional) | NOVOTEST TB-MCV-10 |
|---|---|---|
| Suhu Pengujian | Suhu ruang (setelah pendinginan) | Suhu tinggi terkontrol (hingga 200°C) |
| Metode Indentasi | Indentor tumpul, jejak besar | Indentor Vickers, jejak mikroskopis |
| Resolusi & Sensitivitas | Rendah, rata-rata area luas | Tinggi, mengukur matriks polimer |
| Konversi Skala | Hasil langsung (Shore D) | Otomatis (HV ke Shore D) via software |
| Otomatisasi & Akurasi Data | Manual, subjektif, rentan human error | Otomatis, digital, repeatability tinggi |
Tips Memilih Produk yang Tepat
Memutuskan untuk berinvestasi dalam solusi pengujian hot hardness adalah langkah strategis. Agar investasi Anda tepat sasaran, ada beberapa panduan dalam memilih alat yang benar-benar memenuhi kebutuhan aplikasi Anda. Pertama, perhatikan spesifikasi rentang suhu panggung pemanas. Jangan hanya terpaku pada kebutuhan saat ini (175°C). Pilih alat yang mampu mencapai setidaknya 200°C untuk memberikan margin keamanan termal dan fleksibilitas bagi kebutuhan pengembangan material di masa depan. NOVOTEST TB-MCV-10 memenuhi syarat ini dengan baik.
Kedua, selidiki akurasi dan repeatability-nya. Mintalah data uji atau demonstrasi yang menunjukkan kemampuan alat menghasilkan data yang konsisten. Sertifikasi standar internasional seperti ISO atau ASTM adalah indikator minimum yang harus Anda cari. Ketiga, fitur konversi otomatis multi-skala adalah aset berharga. Alat yang mampu mengonversi nilai HV tidak hanya ke Shore D, tetapi juga ke skala Rockwell atau Brinell, akan memudahkan komunikasi data antara departemen QA dengan pemasok atau pelanggan yang mungkin menggunakan standar berbeda.
Keempat, jangan abaikan aspek dukungan teknis lokal. Sehebat apa pun sebuah alat, ia tetaplah instrumen presisi yang memerlukan kalibrasi, perawatan, dan terkadang perbaikan. Ketersediaan suku cadang dan respons cepat dari distributor resmi akan meminimalkan downtime. NOVOTEST TB-MCV-10 muncul sebagai pilihan ideal karena secara cermat menggabungkan semua kriteria kritis ini. Perangkat yang mengombinasikan keandalan tinggi dengan kemudahan operasional ini merupakan investasi yang memperkuat fondasi jaminan kualitas Anda. Sebagai informasi, untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana NOVOTEST TB-MCV-10 dapat diintegrasikan ke dalam lini pengujian Anda, CV. Java Multi Mandiri sebagai supplier dan distributor alat ukur dan pengujian dapat menjadi mitra konsultatif. Mereka berperan penting dalam mendukung proses pengujian Anda, menyediakan perangkat yang tepat untuk memastikan setiap produk yang keluar dari lini produksi telah memenuhi standar kualitas tertinggi.
Kesimpulan
Prosedur pengukuran hot hardness mold compound pada suhu 175°C bukanlah sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan bagi industri yang menuntut zero-defect. Kami telah mengupas bagaimana deformasi saat ejection molding berakar pada curing degree yang tidak terverifikasi, dan bagaimana metode uji suhu ruang secara fundamental gagal memberikan gambaran akurat. NOVOTEST TB-MCV-10 hadir sebagai solusi yang menjembatani kesenjangan kritis ini. Dengan presisi mikro Vickers, kontrol suhu hingga 200°C, dan konversi otomatis ke skala Shore D yang relevan secara industri, alat ini memberdayakan Anda untuk memvalidasi kualitas curing secara langsung pada kondisi operasional. Penerapan rutin prosedur ini memberikan dampak transformatif: deteksi dini batch bermasalah, penurunan signifikan pada cacat ejection, dan peningkatan yield produksi secara terukur. Memilih NOVOTEST TB-MCV-10 bukan sekadar membeli alat uji, tetapi berinvestasi dalam sebuah sistem jaminan kualitas yang presisi, andal, dan strategis untuk masa depan manufaktur presisi tinggi Anda.
FAQ
Mengapa pengukuran hot hardness pada mold compound harus dilakukan pada suhu 175°C?
Suhu 175°C secara spesifik merepresentasikan temperatur aktual mold compound saat tahap kritis ejection dari cetakan dalam proses transfer molding. Pada suhu ini, material belum sepenuhnya mendingin dan sifat mekaniknya sangat berbeda dibandingkan suhu ruang. Mengukur kekerasan pada suhu operasional ini memberikan data yang paling valid untuk memprediksi ketahanan material terhadap deformasi yang disebabkan oleh pin ejector, sehingga Anda dapat memvalidasi apakah curing degree sudah cukup untuk mencegah cacat.
Apakah hasil Shore D yang dikonversi dari Vickers sudah akurat untuk validasi curing?
Akurat, selama dikalibrasi dengan benar. Perangkat lunak NOVOTEST TB-MCV-10 menggunakan kurva konversi spesifik yang dikembangkan untuk material plastik dan compound. Meskipun konversi dari Vickers (HV) ke Shore D tidak bersifat fundamental seperti konversi antar skala indentasi yang serupa, korelasinya sangat kuat dan teruji secara empiris dalam aplikasi kontrol kualitas. Prosedur ini terbukti lebih sensitif dalam membedakan variasi kecil curing degree dibandingkan pengukuran Shore D langsung menggunakan durometer di suhu ruang.
Apa kelebihan NOVOTEST TB-MCV-10 dibanding durometer Shore D biasa?
Keunggulannya sangat mendasar. NOVOTEST TB-MCV-10 mengukur kekerasan mikro (Vickers) yang beresolusi tinggi pada suhu tinggi, sementara durometer Shore D beroperasi pada suhu ruang dengan indentor tumpul. Ini berarti TB-MCV-10 memberikan data yang relevan dengan kondisi proses, lebih sensitif terhadap perubahan matriks polimer, dan dilengkapi otomatisasi penuh yang meminimalkan human error. Hasilnya adalah validasi curing yang jauh lebih akurat dan handal.
Apakah alat ini bisa digunakan untuk material selain mold compound?
Tentu saja. Salah satu kekuatan NOVOTEST TB-MCV-10 adalah fleksibilitasnya. Dengan rentang beban uji yang luas, dari 0,3 kgf hingga 10 kgf, dan kemampuan mengukur rentang kekerasan dari 8 HV hingga 2500 HV, alat ini ideal untuk berbagai aplikasi. Anda dapat menggunakannya untuk pengujian kekerasan mikro pada lapisan karburasi, pelapisan keras, baja, logam non-ferrous, komponen mikromekanik, serta plastik teknik lainnya. Ini menjadikannya aset serbaguna di laboratorium penelitian, lembaga metrologi, atau departemen QA/QC Anda.
Rekomendasi Hardness Tester
References
- ASTM E92-17, “Standard Test Methods for Vickers Hardness and Knoop Hardness of Metallic Materials”, ASTM International, West Conshohocken, PA, 2017.
- ISO 14577-1:2015, “Metallic materials — Instrumented indentation test for hardness and materials parameters — Part 1: Test method”, International Organization for Standardization, Geneva, Switzerland, 2015.
- Zhang, Y., & Wong, C. P. (2011). “Study on the correlation between the degree of cure and surface hardness of epoxy molding compounds”. Journal of Applied Polymer Science, 122(5), 3105-3111.
- Tosaka, M., et al. (2018). “Effect of Curing Degree on Hot Hardness and Deformation Behavior of Epoxy Molding Compounds.” IEEE Transactions on Components, Packaging and Manufacturing Technology, 8(9), 1623-1631.
- NOVOTEST. (n.d.). “TB-MCV-10 Micro Vickers Hardness Tester: Technical Product Datasheet”. Novotest Group.



