
Ketika proyek konstruksi menuntut verifikasi mutu beton di seluruh elemen struktur, mengandalkan uji tekan destruktif seperti core drill pada setiap kolom, balok, dan pelat menjadi tidak realistis. Biaya membengkak, struktur berisiko mengalami kerusakan lokal, dan waktu inspeksi molor dari jadwal. Padahal, pengawasan mutu yang baik membutuhkan metode cepat, non-destruktif, dan terdokumentasi untuk memetakan konsistensi mutu beton di lapangan. Di sinilah peran NOVOTEST SH Schmidt Hammer menjadi relevan. Alat uji beton portabel ini memanfaatkan prinsip pantulan permukaan (rebound) untuk memperkirakan kekuatan tekan beton secara praktis sesuai standar ASTM C805 dan EN 12504-2. Tersedia dalam beberapa varian energi impact, NOVOTEST SH mampu menyesuaikan diri dengan objek uji mulai dari beton struktural tebal hingga bata dan mortar. Namun, perlu ditekankan sejak awal: nilai rebound bukanlah nilai kuat tekan absolut. Hasil pembacaan harus dikonversi melalui kurva korelasi yang tepat agar interpretasi data tidak menyesatkan keputusan teknis di lapangan.
- Overview NOVOTEST SH Schmidt Hammer
- Apa Itu Schmidt Hammer dan Varian Energi Impact?
- Spesifikasi Teknis NOVOTEST SH
- Cara Kerja Teknologi Rebound Hammer
- Prinsip Rebound Number dan Korelasi dengan Kuat Tekan
- Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pantulan
- Persiapan Permukaan Uji Sesuai ASTM C805
- Prosedur Pengukuran di Lapangan
- Langkah Demi Langkah Pengujian Rebound Hammer
- Interpretasi Nilai Rebound dan Kurva Korelasi
- Fitur Unggulan NOVOTEST SH dan Fungsinya
- Aplikasi NOVOTEST SH dalam Industri Konstruksi
- Studi Kasus Penggunaan
- Kesimpulan
- FAQ
- References
Overview NOVOTEST SH Schmidt Hammer
Schmidt Hammer merupakan instrumen pengujian non-destruktif yang paling dikenal di dunia untuk mengukur kekuatan beton. Nama alat ini berasal dari insinyur Ernst Schmidt yang mengembangkan konstruksi sclerometer. NOVOTEST SH adalah salah satu varian Schmidt hammer modern yang menggabungkan prinsip mekanis yang andal dengan antarmuka digital untuk kemudahan pengguna di lapangan. Alat ini mengukur kekerasan permukaan beton melalui pantulan massa baja, kemudian menampilkan hasilnya sebagai rebound number (R). Prinsip kerja ini didasarkan pada korelasi empiris antara ketinggian pantulan striker dengan kekuatan tekan beton.
NOVOTEST SH tersedia dalam beberapa varian energi impact yang membedakannya dari rebound hammer tunggal pada umumnya. Varian dengan energi impact 2,207 Joule (SH-225) dirancang untuk beton struktural dengan ketebalan 70-100 mm atau lebih, sementara varian 0,735 Joule (SH-75) ditujukan untuk bata dan beton dengan dinding lebih tipis. Terdapat pula varian 0,196 Joule (SH-20) untuk pengujian mortar. Desainnya yang ringkas dengan berat tidak lebih dari 1 kg menjadikan alat ini mudah dioperasikan satu tangan dan nyaman dibawa berpindah dari satu titik inspeksi ke titik berikutnya. Hasil digital yang terbaca langsung di layar mendukung dokumentasi pengujian yang lebih efisien dan seragam.
Apa Itu Schmidt Hammer dan Varian Energi Impact?
Schmidt hammer adalah alat uji yang mengukur kekerasan permukaan beton dengan memantulkan massa baja terhadap permukaan material. Semakin keras dan padat permukaan beton, semakin tinggi energi pantulan yang dihasilkan. Massa baja tersebut dikenal sebagai plunger dan angka pantulannya dinyatakan sebagai rebound number (R). Nilai R inilah yang kemudian digunakan untuk memperkirakan kuat tekan beton melalui grafik korelasi.
Pemilihan energi impact memiliki peran penting dalam validitas hasil uji. Hammer dengan energi 2,207 Nm merupakan tipe paling umum dan kuat, cocok untuk beton struktural tebal seperti kolom dan balok. Energi impact 0,735 Nm menghasilkan tumbukan lebih ringan, ideal untuk bata, paving block, dan elemen beton tipis yang berisiko retak jika terkena tumbukan besar. Adapun energi 0,196 Nm untuk mortar joint pada konstruksi bata. NOVOTEST SH menyediakan ketiga pilihan energi impact ini agar pengguna dapat menyesuaikan alat dengan jenis dan skala objek uji, alih-alih memaksakan satu tipe hammer pada semua material.
Spesifikasi Teknis NOVOTEST SH
Berikut spesifikasi utama NOVOTEST SH berdasarkan data pabrikan untuk tiga varian produk:
| Parameter | NOVOTEST SH-225 | NOVOTEST SH-75 | NOVOTEST SH-20 |
|---|---|---|---|
| Rentang pengukuran kuat tekan | 10 – 60 MPa | 10 – 60 MPa | 1 – 25 MPa |
| Energi impact | 2207 J (Nm) | 735 J (Nm) | 196 J (Nm) |
| Ketebalan minimum objek uji | 70 mm dan lebih | 50 – 100 mm | 30 mm dan lebih |
| Akurasi pengukuran | 10% | 10% | 10% |
| Kekerasan permukaan striker | ≥ 60 HRC | ≥ 60 HRC | ≥ 60 HRC |
| Kekasaran permukaan objek | ≤ 40 Ra µm | ≤ 40 Ra µm | ≤ 40 Ra µm |
| Radius indentor | 25 mm | 25 mm | 25 mm |
| Rentang suhu operasi | -20 … 50 °C | -20 … 50 °C | -20 … 50 °C |
| Berat maksimum | 1 kg | 1 kg | 1 kg |
Display digital pada NOVOTEST SH menyajikan pembacaan rebound number secara langsung, menghilangkan kebutuhan membaca skala analog secara manual. Memori internal tersedia untuk menyimpan data pengukuran lapangan, sehingga teknisi dapat mentransfer data ke PC untuk pengolahan laporan dan analisis lanjutan.
Cara Kerja Teknologi Rebound Hammer
Prinsip fisik di balik rebound hammer cukup sederhana. Ketika plunger ditekan ke permukaan beton, pegas internal terkompresi hingga melepaskan massa baja yang menumbuk plunger. Tumbukan ini menghasilkan energi kinetik yang diteruskan ke permukaan beton. Sebagian energi diserap oleh beton untuk deformasi plastis lokal, sebagian lagi dikembalikan sebagai energi pantulan yang mendorong massa baja memantul. Tinggi pantulan massa baja inilah yang terbaca sebagai rebound number (R) pada skala alat.
Permukaan beton yang lebih keras dan kaku menyerap lebih sedikit energi, menghasilkan pantulan yang lebih tinggi. Permukaan lunak atau keropos menyerap banyak energi, sehingga pantulan rendah. Dengan demikian, rebound number merepresentasikan kekerasan permukaan yang berkorelasi dengan kekuatan tekan beton. Namun, validitas hasil sangat bergantung pada kondisi permukaan. Permukaan yang kasar, berpori, terdapat void, atau tertutup lapisan plester akan membiaskan nilai pantulan karena energi tumbukan tidak ditransmisikan secara seragam ke material beton.
Oleh karena itu, persiapan permukaan menjadi langkah krusial. Standar ASTM C805 merekomendasikan area uji digerinda hingga halus menggunakan batu gerinda. Area uji juga harus bebas dari cat, debu, plester, atau material lepas lain. Permukaan yang bersih dan rata memastikan plunger menempel penuh dan tumbukan terjadi tegak lurus secara konsisten. Tanpa persiapan permukaan yang memadai, data rebound tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip Rebound Number dan Korelasi dengan Kuat Tekan
Saat plunger ditembakkan ke permukaan beton, jarak pantulan massa baja diukur oleh sensor internal dan dikonversi menjadi rebound number (R). Nilai R bersifat tanpa satuan dan mewakili proporsi energi pantulan relatif terhadap energi tumbukan. Rentang nilai R umumnya antara 10 hingga 70, bergantung pada mutu beton dan kondisi permukaan.
Hubungan antara R dan kuat tekan beton bersifat empiris dan tidak linier universal. Beton dengan campuran yang berbeda dapat memiliki kurva korelasi yang berbeda meskipun menghasilkan nilai R yang sama. Variasi jenis agregat, rasio air-semen, umur beton, dan kadar air mempengaruhi posisi kurva korelasi. Untuk estimasi yang akurat, pengguna harus menggunakan kurva korelasi dari pabrikan NOVOTEST atau mengembangkan kurva korelasi spesifik proyek dengan mengambil beberapa sampel core drill sebagai data kalibrasi. Rumus tunggal yang berlaku untuk semua beton tidak ada. Menganggap nilai R sebagai angka mutlak kuat tekan merupakan kesalahan interpretasi yang sering terjadi di lapangan.
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pantulan
Beberapa variabel signifikan dapat membiaskan hasil rebound hammer test. Kandungan agregat dan kekerasan agregat mempengaruhi kekerasan permukaan, sehingga beton dengan agregat keras menunjukkan rebound lebih tinggi pada kuat tekan yang sama. Kadar air berlebih menurunkan pantulan karena permukaan menjadi lebih lunak dan lembek. Sebaliknya, karbonasi pada beton tua membentuk lapisan permukaan keras yang menaikkan rebound number secara artifisial, sehingga estimasi kuat tekan menjadi terlalu optimis.
Arah pukulan juga mempengaruhi hasil karena gravitasi bekerja pada massa baja. Pengujian pada permukaan vertikal (posisi horizontal hammer) memberikan pembacaan yang berbeda dengan pengujian dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Koreksi sudut diperlukan sesuai standar. Suhu alat dan beton berpengaruh pada karakteristik pegas dan material. Terakhir, permukaan yang kasar, bergelombang, atau tertutup material non-struktural seperti cat, plester tipis, dan kotoran akan menurunkan pantulan secara tidak merata. Identifikasi dan eliminasi faktor-faktor ini merupakan bagian penting dari prosedur yang benar.
Persiapan Permukaan Uji Sesuai ASTM C805
Sebelum melakukan pengujian, teknisi wajib mempersiapkan area uji secara benar. ASTM C805 mensyaratkan permukaan beton dibersihkan dari material lepas, debu, minyak, plester, cat, atau lapisan finishing lain. Area uji harus kering karena kelembaban berlebih mengubah sifat mekanis permukaan. Gunakan batu gerinda carborundum untuk meratakan area seluas minimal 150 mm × 150 mm. Penggerindaan bertujuan menghilangkan ketidakrataan lokal dan lapisan permukaan yang tidak representatif.
Penentuan titik uji mengikuti aturan geometrik yang ketat. Setiap titik uji harus berada minimal 20 mm dari tepi elemen beton dan antar titik uji berjarak minimal 25 mm untuk menghindari interaksi tegangan lokal. Hindari area yang memiliki void, sarang kerikil, atau agregat besar menonjol yang dapat mengalihkan tumbukan secara tidak normal. Titik uji sebaiknya tersebar merata dalam satu area yang sama untuk memperoleh nilai rata-rata yang menggambarkan kondisi elemen secara keseluruhan.
Prosedur Pengukuran di Lapangan
Pelaksanaan rebound hammer test dengan NOVOTEST SH memerlukan pendekatan sistematis agar hasilnya konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Langkah pertama adalah memverifikasi integritas alat melalui kalibrasi menggunakan anvil standar. Kalibrasi dilakukan sebelum dan sesudah rangkaian pengujian lapangan. Pabrikan menyediakan nilai referensi yang harus terbaca oleh alat saat pengujian pada anvil. Jika pembacaan di luar toleransi yang ditetapkan, alat perlu disetel ulang atau diperiksa lebih lanjut.
Selanjutnya, pilih varian energi impact yang sesuai dengan objek uji. Untuk beton struktural tebal lebih dari 100 mm, gunakan SH-225 dengan energi 2,207 Nm. Untuk dinding bata atau beton tipis, gunakan SH-75 atau SH-20. Pastikan orientasi alat tegak lurus terhadap permukaan uji. Tekan plunger secara perlahan dan stabil hingga terjadi tumbukan. Pembacaan rebound number muncul pada display digital. Ulangi pembacaan minimal 10 kali per area uji dengan memperhatikan jarak antar titik. Jangan lupa mencatat arah pukulan (horizontal, vertikal ke bawah, vertikal ke atas, atau sudut tertentu) karena data ini digunakan untuk koreksi grafik.
Setelah seluruh pembacaan terkumpul, teknisi dapat menghitung rata-rata rebound number. Data digital pada NOVOTEST SH memungkinkan transfer cepat ke PC untuk pengolahan statistik dan pembuatan laporan. Hasil akhir berupa estimasi kuat tekan (MPa) yang diperoleh dari kurva korelasi yang telah dipilih.
Langkah Demi Langkah Pengujian Rebound Hammer
- Kalibrasi alat: Uji NOVOTEST SH pada anvil standar pabrikan. Pastikan pembacaan sesuai rentang sertifikat kalibrasi. Lakukan hal yang sama setelah pengujian selesai untuk memverifikasi stabilitas alat.
- Pilih energi impact: SH-225 untuk beton struktural tebal > 70 mm; SH-75 untuk bata dan beton tipis 50–100 mm; SH-20 untuk mortar.
- Orientasi alat: Pegang hammer dengan kuat, posisikan tegak lurus permukaan beton. Untuk permukaan vertikal, arahkan hammer horizontal.
- Mulai tumbukan: Tekan plunger pada titik uji dengan kecepatan konstan hingga hammer memicu tumbukan. Jangan mengubah posisi setelah plunger menyentuh permukaan.
- Baca dan catat nilai R: Display digital menampilkan rebound number. Catat nilai tersebut beserta kode elemen, titik uji, arah pukulan, dan waktu.
- Ulangi pengukuran: Lakukan minimal 10 pembacaan pada area uji yang sama dengan jarak antar titik ≥ 25 mm dan dari tepi ≥ 20 mm. Hindari menumbuk titik yang sama dua kali karena tumbukan pertama menyebabkan pemadatan lokal yang menaikkan pembacaan berikutnya.
- Proses data: Buang pembacaan ekstrem yang menyimpang jauh dari rata-rata sesuai ketentuan standar. Hitung rata-rata rebound number. Konversi ke kuat tekan dengan kurva korelasi.
Interpretasi Nilai Rebound dan Kurva Korelasi
Setelah data rebound number terkumpul, teknisi menghitung nilai rata-rata area uji dengan membuang pembacaan yang menyimpang lebih dari toleransi standar. Nilai rata-rata ini kemudian diplot pada kurva korelasi yang sesuai. Kurva korelasi dapat berasal dari pabrikan NOVOTEST atau dikembangkan secara spesifik untuk campuran beton proyek menggunakan data core drill. Menggunakan kurva yang tidak sesuai dengan karakteristik beton yang diuji akan menghasilkan estimasi yang menyesatkan.
Hasil akhir dinyatakan sebagai estimasi kuat tekan (MPa) dengan rentang kepercayaan tertentu. Penting untuk tidak menyajikan angka ini sebagai nilai kuat tekan absolut yang setara dengan hasil uji tekan laboratorium. Rebound hammer test merupakan metode screening non-destruktif untuk memetakan variasi mutu beton, mengidentifikasi area berkekuatan rendah, dan menentukan prioritas pengujian lanjutan. Keputusan teknis yang menentukan penerimaan struktur sebaiknya tetap divalidasi dengan data destruktif atau semi-destruktif pada titik kritis.
Fitur Unggulan NOVOTEST SH dan Fungsinya
NOVOTEST SH menghadirkan kombinasi fitur yang menjawab kebutuhan inspeksi lapangan modern. Desainnya portabel dengan berat maksimum 1 kg menjadikan alat ini nyaman dioperasikan satu tangan bahkan saat berpindah antarlantai gedung atau area konstruksi yang sulit dijangkau. Material bodinya tahan benturan sehingga tetap andal meski terpapar kondisi kerja lapangan yang keras.
Display digital pada NOVOTEST SH memberikan pembacaan rebound number langsung tanpa interpretasi skala analog yang rentan kesalahan paralaks. Fitur ini mempercepat proses pengukuran dan mengurangi variabilitas antar operator. Memori internal memungkinkan penyimpanan data pengukuran dalam jumlah besar. Data tersebut dapat ditransfer ke PC untuk diolah menjadi laporan inspeksi yang rapi dan terdokumentasi, sehingga memenuhi kebutuhan QC modern yang mengutamakan traceability.
Ketersediaan beberapa pilihan energi impact merupakan fitur yang menjadikan NOVOTEST SH lebih fleksibel daripada hammer tunggal. Teknisi dapat mengganti head sesuai material yang diuji, mulai dari beton struktural, dinding bata, paving block, hingga mortar. Terakhir, kesesuaian alat dengan ASTM C805 dan EN 12504-2 memberikan kredibilitas pada data yang dihasilkan. Kontraktor dan konsultan pengawas dapat menggunakan hasil uji NOVOTEST SH sebagai bagian dari dokumentasi pengendalian mutu yang diakui.
Aplikasi NOVOTEST SH dalam Industri Konstruksi
Quality Control Proyek Baru
Pada proyek gedung dan infrastruktur baru, NOVOTEST SH digunakan untuk verifikasi mutu beton umur 28 hari pada elemen kolom, balok, pelat, dan dinding. Teknisi QC menggunakannya sebagai alat screening harian untuk memastikan konsistensi kuat tekan antar area pengecoran. Elemen dengan rebound number rendah dapat diidentifikasi lebih awal sebelum pembebanan struktur dilanjutkan.
Inspeksi Bangunan Eksisting
Untuk gedung lama yang akan direnovasi, diperkuat, atau dialihfungsikan, rebound hammer memberikan gambaran cepat mengenai kondisi mutu beton eksisting. Konsultan struktur dapat memetakan area-area dengan degradasi kuat tekan akibat umur, karbonasi, atau serangan lingkungan. Data ini menjadi dasar untuk menentukan lokasi core drill atau uji lanjutan seperti ultrasonic pulse velocity (UPV) dan uji karbonasi.
Pemeriksaan Elemen Tipis dan Material Non-Beton
Dengan varian energi impact rendah, NOVOTEST SH juga bekerja pada bata, paving block, dan mortar yang tidak dapat diuji dengan hammer standar. Hal ini memperluas cakupan inspeksi pada bangunan non-struktural dan infrastruktur kecil tanpa merusak material.
Screening Awal untuk Uji Lanjutan
Nilai rebound yang rendah pada suatu area tidak serta merta berarti beton gagal. Namun, data tersebut menjadi penanda awal untuk melakukan pengujian lebih mendalam seperti core drill, uji karbonasi, atau analisis kimia beton. Dengan demikian, sumber daya pengujian destruktif yang mahal dapat dialokasikan tepat sasaran.
Studi Kasus Penggunaan
Verifikasi Mutu Kolom pada Proyek Gedung 10 Lantai
Tim QC menggunakan NOVOTEST SH-225 dengan energi impact 2,207 Nm untuk menguji kolom dan balok pada umur 28 hari. Setiap kolom menerima 10 titik pengujian yang tersebar merata di bidang permukaan. Hasil rata-rata rebound number pada salah satu kolom adalah 38. Dengan menggunakan kurva korelasi proyek yang telah dikalibrasi melalui uji core drill pendahuluan, nilai tersebut terkonversi menjadi estimasi kuat tekan 32 MPa. Spesifikasi proyek menuntut fc’ 30 MPa, sehingga area tersebut dinyatakan memenuhi kriteria. Data digital dari NOVOTEST SH langsung diunduh dan dilampirkan dalam laporan QC sebagai bukti verifikasi yang terdokumentasi.
Audit Struktur Bangunan Lama Sebelum Renovasi
Konsultan audit melakukan pemetaan mutu beton pada gedung berusia 25 tahun yang akan menerima penambahan lantai. Dengan NOVOTEST SH-225, mereka menguji kolom dan balok di seluruh lantai. Beberapa area menunjukkan rebound number rata-rata di bawah 25, jauh lebih rendah dari area lain yang berada pada kisaran 35–40. Area dengan nilai rendah tersebut kemudian ditetapkan sebagai lokasi core drill. Hasil uji tekan destruktif mengonfirmasi degradasi kuat tekan pada zona tersebut. Pendekatan ini mengurangi jumlah titik core drill hingga 70% dibandingkan jika seluruh elemen diuji destruktif. Biaya audit turun signifikan dan waktu inspeksi lebih efisien tanpa mengorbankan keandalan data.
Kesimpulan
NOVOTEST SH Schmidt Hammer merupakan alat uji kekuatan beton non-destruktif yang dirancang untuk menjawab kebutuhan inspeksi lapangan yang praktis dan terdokumentasi. Dengan varian energi impact yang dapat disesuaikan, alat ini mampu menguji beton struktural tebal lebih dari 100 mm, dinding bata, dan mortar menggunakan satu platform perangkat. Desain portabel, display digital, serta kesesuaian dengan ASTM C805 dan EN 12504-2 menjadikannya alat yang relevan bagi kontraktor, konsultan pengawas, laboratorium, dan pemilik aset.
Kendati demikian, pengguna harus memahami batasan metode ini. Nilai rebound yang terbaca bukan merupakan angka kuat tekan absolut. Konversi harus melalui kurva korelasi yang sesuai, baik dari pabrikan maupun pengembangan spesifik proyek. Hasil rebound hammer test sebaiknya diposisikan sebagai data screening awal untuk memetakan mutu beton dan menentukan kebutuhan uji lanjutan yang lebih mendalam. Dengan pemahaman ini, NOVOTEST SH memberikan nilai optimal sebagai instrumen verifikasi mutu beton di berbagai tahap proyek konstruksi dan inspeksi bangunan eksisting.
CV. Java Multi Mandiri merupakan supplier dan distributor resmi alat ukur dan alat uji di Indonesia yang mendukung proses pengujian dan pengukuran berbagai macam kebutuhan industri. Dengan portofolio produk yang mencakup alat uji beton, instrumen NDT, dan perangkat pengukuran teknik lainnya, perusahaan ini menjadi mitra pengadaan untuk kebutuhan bisnis dan industri. Pelajari lebih lanjut tentang perjalanan dan kapabilitas perusahaan melalui halaman kami. Jika Anda membutuhkan dukungan teknis dalam memilih alat uji yang tepat untuk aplikasi spesifik, tim kami siap membantu melalui layanan konsultasi gratis.
FAQ
Apakah Schmidt hammer test bisa menggantikan uji tekan destruktif di laboratorium?
Tidak. Schmidt hammer test adalah metode non-destruktif untuk memperkirakan kuat tekan berdasarkan kekerasan permukaan. Hasilnya bersifat indikatif dan memerlukan kurva korelasi yang tepat. Uji tekan destruktif di laboratorium tetap menjadi referensi utama untuk menentukan kuat tekan beton yang sebenarnya. Rebound hammer berfungsi sebagai alat screening untuk memetakan variasi mutu dan menentukan lokasi uji lanjutan yang lebih mendalam.
Berapa tebal minimum beton agar hasil rebound hammer test valid?
Tergantung pada varian energi impact. NOVOTEST SH-225 mensyaratkan ketebalan minimum 70 mm atau lebih, sedangkan SH-75 untuk ketebalan 50–100 mm dan SH-20 untuk ketebalan 30 mm atau lebih. Untuk elemen dengan tebal lebih tipis dari syarat tersebut, getaran akibat tumbukan dapat mempengaruhi hasil karena pantulan tidak merepresentasikan kekuatan material sepenuhnya.
Bagaimana cara mengonversi nilai rebound menjadi kuat tekan (MPa)?
Konversi dilakukan menggunakan kurva korelasi. Nilai rebound number rata-rata dari minimal 10 pembacaan diplot pada kurva tersebut untuk memperoleh estimasi kuat tekan. Kurva korelasi dapat berasal dari pabrikan atau dikembangkan secara spesifik menggunakan data uji tekan dari core drill pada campuran beton yang sama. Rumus konversi universal tidak berlaku untuk semua jenis beton.
Apa saja persiapan permukaan yang harus dilakukan sebelum pengujian?
Permukaan uji harus dibersihkan dari debu, cat, plester, dan material lepas lain. Gunakan batu gerinda untuk meratakan permukaan yang kasar atau bergelombang. Pastikan area uji kering dan bebas dari void atau agregat besar yang menonjol. Titik uji harus berjarak minimal 20 mm dari tepi dan antar titik uji minimal 25 mm sesuai rekomendasi ASTM C805.
Rekomendasi Hardness Tester
References
- ASTM International. (2018). ASTM C805/C805M-18: Standard Test Method for Rebound Number of Hardened Concrete. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- British Standards Institution. (2021). BS EN 12504-2:2021: Testing Concrete in Structures — Part 2: Non-destructive Testing — Determination of Rebound Number. London: BSI.
- Malhotra, V. M., & Carino, N. J. (2004). Handbook on Nondestructive Testing of Concrete. 2nd Edition. Boca Raton: CRC Press.
- Bungey, J. H., Millard, S. G., & Grantham, M. G. (2006). Testing of Concrete in Structures. 4th Edition. London: Taylor & Francis.
- NOVOTEST. (2024). NDT Tools Schmidt Hammer NOVOTEST SH Product Documentation. Novotest Engineering.




